Surat Permintaan
Apakah kamu punya payung?
Payung yang cukup buat berdua ketika hujan deras mengurung. Aku tidak betah tertahan di balkon sekolah hingga sore menjelang, tapi hujan-hujanan pun aku tidak rela. Dengan payung di genggaman, kita akan tertawa sepanjang jalan sembari membaca bayangan kita yang terpantul di atas kubangan pinggir jalan. Sesudahnya kita akan membandingkan bayangan siapa yang lebih cantik.
Apakah kamu punya cangkir?
Buat kita isi dengan teh, kopi, susu, atau apapun yang kamu mau. Secangkir kehangatan untuk menjadi saksi percakapan kita. Dari panas hingga dingin. Dari buih hingga ampas. Tidak peduli pagi, siang, sore, atau bahkan tengah malam. Bagilah isi cangkir kita seperti ia tak akan habis tanpa sisa.
Apakah kamu punya buku?
Akan kita kupas lembar demi lembar dengan jemari. Melukiskan kalimat demi kalimat dengan intonasi. Akan kuingat caramu bercerita. Lalu kita akan berdiskusi hebat mengenai isi sang buku sampai saling mencaci. Dan di akhir nanti, kita akan berjanji buat membaca buku bersama-sama lagi esok hari. Karena semua buku jadi menarik semenjak kita membacanya berdua.
Apakah kamu punya senyum?
Kenakan satu senyum terbaikmu kalau berpapasan denganku. Tidak perlu lebar-lebar. Aku akan tertawa. Tidak harus lama-lama. Aku nanti meleleh. Sekali kamu melengkungkan senyum selama tiga detik pun cukup buat menerbangkanku ke galaksi lain. Tapi saat kembali lagi ke Bima Sakti ini pasti senyumanmulah yang pertama kali aku cari.
Apakah kamu punya waktu?
Barangkali lima detik untuk mengirim pesan selamat pagi atau selamat tidur buatku. Atau tiga menit buat berteriak di ujung gagang telepon cuma buat menyuruhku makan malam. Atau dua jam menemaniku memotret foto di sudut kota berawan, lalu kita akan tertawa ketika menyadari yang kupotret ternyata bukan lampu taman, pohon akasia, maupun bangku di halte biru muda. Yang kupotret cuma kamu. Lalu kita akan pulang dengan oleh-oleh sebuah senyum yang tidak kunjung lepas dari wajah masing-masing.
Apakah kamu punya nyawa?
Nyawa yang membiarkan kamu hidup. Jangan seluruh nyawa kamu beri buatku. Cukup sandingkan saja karena aku cuma ingin seiring.
Kepada yang terhormat kamu, dengan ini aku menyatakan pertanyaan,
Apakah kamu mau menangkap jika aku jatuh?
taken from someone gergeous on tumblr :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar